Akhirnya bisa nonton sang pemimpi juga, yah walaupun dapet tiketnya gratis, tepatnya hasil ikut lomba nge-blog dikantor karena kebetulan kantorku sedang promo produc baru yaitu Hape Esia Online, perlombaannya yaitu ikut menyebarkan informasi promosi di Bloggernya masing-masing trus 10 blogger yang tercepat ikut mempromosikan hape Esia Online dalam blognya mendapatkan tiket nonton Sang pemimpi Gratis…tis…tis…. Hehehehehe seru juga kan……🙂

Dalam Sang Pemimpi, Andrea bercerita tentang kehidupan ketika masa-masa SMA. Tiga tokoh utamanya adalah Ikal, Arai dan si kuda. Arai adalah saudara jauhnya ikal yang yatim piatu karena anggota keluarganya sudah meninggal semua dan arai adalah orang terakhir yang masih hidup dan akhirnya menjadi saudara angkat dan Jimbron-seorang yatim piatu yang terobsesi dengan kuda dan gagap bila sedang antusias terhadap sesuatu atau ketika gugup.

Ketiganya dalam kisah persahabatan yang terjalin dari kecil sampai mereka bersekolah di SMA Negeri Bukan Main, SMA pertama yang berdiri di Belitung bagian timur. Bersekolah di pagi hari dan bekerja sebagai kuli di pelabuhan ikan pada dini hari, dari ketagihan mereka menonton film panas di bioskop dan akhirnya ketahuan guru mengaji mereka , perpisahan Jimbron dengan ikal dan Arai yang akan meneruskan kuliah di Jakarta yang akhirnya membuat mereka berdua terpisah tetapi tetap akan bertemu di Perancis. Hidup mandiri terpisah dari orang tua dengan latar belakang kondisi ekonomi yang sangat terbatas namun punya cita-cita besar , sebuah cita-cita yang bila dilihat dari latar belakang kehidupan mereka, hanyalah sebuah mimpi.

“Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati ….” Arai.

Arai adalah saudara Ikal yang sudah sebatang kara. Masih selalu terbayang di pelupuk mata Ikal, bagaimana saat anak itu ditinggal mati ayahnya, satu-satunya keluarga daging darahnya yang tersisa. Jadilah dia Simpai Keramat, seorang terakhir dari sebuah klan keluarga yang tak punya siapa-siapa lagi. Waktu dia dan ayahnya menjemput Arai, anak itu begitu mengenaskan, menunggu di tangga gubugnya dengan karung kecampang di ketiaknya (berisi hartanya yang tersisa), sendirian di tengah belantara ladang tebu tak terurus. Dia seorang yang berandal banyak akal, kadang tak masuk akal, tak tertebak, tetapi hatinya begitu lembut. Dialah guru Ikal dalam banyak hal. Arailah orang yang membuat hidupnya bersemangat dan tak lepas cita-cita. Simpai Keramat itulah yang membuatnya masih terus punya mimpi. Lain lagi dengan Jimbron yang juga sebatang kara. Ia punya penyakit gagap yang kambuh jika sedang bersemangat. Ia memiliki obsesi yang kompulsif terhadap kuda. Segala jenis kuda, yang bahkan tak pernah dikenal di Belitong. Ia bahkan menabung uang yang dimilikinya pada dua buah celengan kuda. Hitam dan putih. Ia baby face, tetapi begitu baik pada Ikal dan Arai. Dan begitu dekat.

Karena bersekolah di SMA yang sama di Bagai, sama-sama dari keluarga melarat, maka ketiganya menyewa sebuah tempat kos yang sama dan bekerja sebagai kuli ngambat yang sama. Setiap pukul dua pagi, mereka sudah mengangkut ikan berbagai jenis dari dermaga ke pasar ikan. Pukul tujuh, ketiganya setelah mandi seadanya langsung berangkat ke sekolah dengan bau serupa ikan pari. Tapi meski begitu, ketiganya menggantungkan sebuah cita-cita, mimpi tepatnya, yang sangat tinggi.

“Jelajahi kemegahan Eropa hingga Afrika yang eksotik! Temukan berliannya budaya sampai ke Prancis. Langkahkan kakimu di atas altar suci almamater terhebat tiada tara: Sorbonne. Ikuti jejak-jejak Sartre, Louis Pasteur, Montequieu, Voltaire. Di sanalah orang belajar science, sastra, dan seni hingga mengubah peradaban ….” itulah kata yg ada dlm buku sang pemimpi. Mimpi itulah yang bagai hantu membayang terus dalam kehidupan mereka. Mendorong terus semangat mereka untuk terus berusaha tanpa lelah untuk suatu saat, entah kapan, meraih cita-cita itu.